Kamis, 07 Januari 2016

Tokoh Islam: Shafiyah binti Abdul Mutthalib

Tokoh Islam: Shafiyah binti Abdul Mutthalib

Shafiyah binti Abdul Mutthalib
 Muslimah pertama dalam Islam yangmenewaskan orang musyrik dengan tangannya, dalam peperangan menegakkan agama Allah. [kata ahli-ahli sejarah].
Dia wanita bangsawan yang berpikiran murni dan memiliki karakter tinggi. Orang-orang pandai menilainya dengan seribu macam penilaian. Sebagai wanita sahabat yang gagah berani, tercatat dalam sejarah Islam. Dia muslimah pertama yang menewaskan orang musyrik dengan tangannya dalam perang menegakkan agama Allah. Dia wanita pertama yang muncul menunggang kuda dan menghunus pedang dalam perang fi sabilillah


Siapa sesungguhnya srikandi muslimah ini?

Dia adalah SHAFIYAH BINTI ABDUL MUTTHALIB AL HASYIMIYAH AL QURASYIYAH, bibi Muhammad bin Abdul Mutthalib, Rasulullah SAW. Kemuliaan adalah melengkupi Shafiyah dari berbagai pihak. Ayahnya Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi SAW, seorang pemimpin Quraisy yang dipatuhi. Ibunya Halah binti Wahab, saudaranya Aminah binti Wahab ibunda Rasulullah SAW. Suaminya yang pertama Al Harits bin Harb, saudara Abu Sufyan bin Harb, pemimpin Bani Umayyah.

Al Harits wafat ketika Shafiyah masih menjadi isterinya. Suaminya yang kedua Al Awwam bin Khuwailid, saudara laki-laki Khadijah binti Khuwailid, pemimpin wanita Arab pada masa jahiliyah, dan Ummul Mu'minin pertama dalam Islam. Puteranya Zubair bin Awwam, pembantu khusus (Hawariy) Rasulullah SAW.

Kemuliaan turunan yang bagaimanakah lagi yang hendak diraih orang sesudah itu selain kemuliaan Iman? Suaminya kedua meninggalkan seorang putera baginya. Anak itu ditinggal wafat oleh bapaknya ketika kecil dan diberinya nama “Zubair”. Zubair dibesarkan Shafiyah dengan pendidikan yang keras. Dia mengajar anaknya kepintaran berkuda dan berperang. Permainannya lomba memanah dan memperbaiki busur. Shafiyah biasa meninggalkan anaknya di tempat-tempat angker, dan membawanya ke tempat-tempat berbahaya. Bila dilihatnya Zubair mundur maju atau ragu-ragu, dipukulnya. Sehingga pada suatu ketika Shafiyah ditegur oleh pamannya.

Kata paman, “Engkau memukul dengan pukulan kebencian, bukan dengan pukulan seorang ibu….”

Shafiyah menjawab dengan bersajak.

image“Siapa mengatakan aku memukul benci, sungguh dusta,

Aku memukul supaya pintar,

Tangguh menghadapi musuh,

Pulang dengan kemenangan.”

Kemudian Allah mengutus Nabi-Nya membawa agama yang hak, memberi kabar takut dan kabar gembira. Allah memerintahkan Nabi supaya memulai dakwah dalam keluarga terdekat. Maka dikumpulkannya segenap bani Abdul Mutthalib, pria, wanita, orang tua dan anak-anak.

Nabi berpidato di hadapan mereka :

“Hai, Fatimah binti Muhammad….!

“Hai, Shafiyah binti Abdul Mutthalib…!

Hai, Bani Abdul Mutthalib….!

“Aku tidak dibekali Allah untuk kalian, kecuali mengajak kalian iman kepada Allah dan mempercayai kerasulanku…”

Setelah selesai berpidato, ada di antara mereka yang segera menerima dakwah (ajakan) beliau, ada yang ragu-ragu, dan ada pula yang menolak mentah-mentah. Shafiyah termasuk kelompok pertama yang menerima dan percaya.

Karena itu lengkaplah sudah terkumpul pada pribadi Shafiyah seluruh unsur kemuliaan, yaitu unsur-unsur keturunan sebagai bangsawan tinggi, disempurnakan dengan unsur ketinggian Islam.

Sejak itu Shafiyah dan puteranya membaur ke dalam kelompok cahaya yang terang benderang. Dia turut berjuang mati-matian, dan bekerja keras bersama-sama kaum muslimin kelompok pertama menegakkan panji-panji dakwah menghadapi tantatangan kaum Quraisy, baik berupa agitasi, intimidasi, dan segala macam teror yang dilancarkan Quraisy.

Ketika Allah mengizinkan Nabi-Nya dan orang-orang mukminin hijrah ke Madinah, Shafiyah yang bangsawan Bani Hasyim ini pun turut pula berhijrah. Dengan ikhlas ditinggalkannya kota Makkah dengan kenangan-kenangan indah, kebangsawanan, kemegahan dan kebanggaan. Dihadapkannya mukanya ke Madinah sebagai muhajirin, pindah dari agama sesat nenek moyang ke agama Allah dan Rasul-Nya.

Kini Sayyidah (nyonya) yang agung ini memasuki usia keenam puluh dalam hidupnya yang panjang dan penuh tantangan sebagai srikandi. Dia telah turut berperan di berbagai medan jihad seperti yang selalu disebut-sebut oleh sejarah sebagai cerita yang menabjubkan dan penuh sanjungan.

Di halaman yang terbatas ini cukuplah kiranya kami ketengahkan peranan beliau yang tidak saja memperlihatkannya sebagai pendekar gagah, tetapi juga muslimah yang sabar, berhati teguh dan beriman kuat, yaitu dalam perang Uhud .

Dalam perang Uhud, Shafiyah turut berperang bersama-sama tentara muslimin, bergabung dalam pasukan para wanita. Tugasnya mengangkat air, menyediakan anak panah, dan memperbaiki busur. Di samping itu Shafiyah mempunyai tujuan atau alasan khusus. Dia ingin merekam seluruh jalannya pertempuran ke dalam ingatannya yang kuat.

Memang tidak mengherankan kalau dia mempunyai keinginan pribadi seperti itu. Mengapa tidak? Karena di medan tempur terdapat anak saudaranya, Muhammad Rasulullah, terdapat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutthalib, yang dijuluki “Asadullah” (singa Allah), dan ada pula anak kandungnya Zubair bin Awwam, yang berpredikat “Hawary Nabiyallah” (pembantu khusus Nabi Allah). Dan yang lebih mendasar daripada itu semua bahwa yang diikutinya itu menentukan perjalanan agama Islam, yang dianuti dengan sungguh-sungguh oleh Shafiyah.

Ketika memperhatikan jalannya pertempuran, Shafiyah melihat kaum muslimin terdesak hingga terpencar-pencar jauh dari Rasulullah. Hanya sedikit jumlah mereka yang tinggal bertahan bersama beliau. Sementara itu kaum musyrikin menyerbu dengan pesatnya, sehingga hampir tiba dekat Rasulullah dan mereka hampir membunuh beliau. Secepat kilat Shafiyah melemparkan tempat air yang dibawanya, lalu dengan tangkas dia melompat bagaikan singa betina sedang melatih anaknya. Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Kemudian ia maju menyerang barisan musuh dengan pedang terhunus dan menebas setiap musuh yang berada di hadapannya. Dia berteriak kepada kaum muslimin, “Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah?” katanya.

Ketika Nabi melihat Shafiyah maju ke tengah medan, beliau kuatir kalau Shafiyah tak kuat menahan sedih menemukan mayat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutthalib yang tewas di tengah medan pertempuran. Lalu beliau memberi isyarat kepada Zubair. “Cegah ibumu, Zubair….! Cegah ibumu…! Kata beliau memerintahkan Zubair menyuruh ibunya kembali.

Zubair segera berpacu mengejar ibunya. “Ibu..! Kembali..! Ibu…Kembali!” teriak Zubair memanggil ibunya.

“Pergi kau..! Tidak ada ibu-ibuan..!” jawab Shafiyah.

“Rasulullah memerintahkan ibu kembali..! kata Zubair pula.

Mengapa? Aku mendengar mayat saudaraku dirusak binasakan mereka. Padahal saudaraku tewas fi sabilillah…! Kata Shafiyah.

“Biarkan ibumu, hain Zubair!” kata Rasulullah.

Zubair membiarkanya ibunya pergi.

Ketika pertempuran telah usai, Shafiyah berdiri dekat mayat saudaranya. Didapatinya perut Hamzah terbelah. Jantungnya diambil orang. Hidung dan kupingnya sudah dipotong. Mukanya rusak tak dapat dikenali.

Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, Shafiyah memohon ampun bagi Hamzah. Kemudian berkata : “Dia tewas fi sabilillah, Aku ridha dengan keputusan Allah atasnya, Demi Allah! Aku akan tetap sabar, dan menyerahkan semua ini kepada Allah, serta memohonkan pahala untuknya…”

Itulah peran Shafiyah binti Abdul Mutthalib dalam perang Uhud. Semoga Allah meridhai Shafiyah binti Abdul Mutthalib. Dia merupakan contoh tunggal bagi wanita muslimah. Dia mengembangkan kepribadian sendiri, lalu diperkuatnya kepribadian itu. Dia tidak luput dari berbagai macam kesulitan, tetapi senantiasa mengatasinya dengan cara yang paling baik, yaitu meneguhkan hati (sabar) serta iman yang kokoh

Minggu, 21 September 2014

IMAN

Pengertian Iman

pengertian iman
Iman adalah percaya dengan yakin atas sesuatu. Dalam bahasa Indonesia, iman artinya kepercayaan (yang berkenaan denga agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dsb. Beriman artinya mempunyai iman (ketetapan hati); mempunyai keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam risalah agama Islam,  iman artinya percaya dengan yakin kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, pencipta dan pemelihara alam semesta beserta isinya, serta tidak ada Tuhan selain-Nya.

Iman (amana -  yu’minu -  imanan) secara harfiyah (etimologis) artinya percaya dengan yakin. Iman adalah akidah Islamiyah, yakni sistem keyakinan atau kepercayaan dalam Islam.

Akidah (‘aqoda - ya’qidu - ‘aqdan/aqad) artinya ikatan, yakni ikatan hati atau jiwa alias keyakinan atau kepercayaan.

Secara maknawi (terminologis) iman adalah percaya dengan yakin akan adanya Allah SWT, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhirat, serta Qadha dan Qadar.

Percaya dengan yakin kepada keenam hal itu disebut Arkanul Iman atau Rukun Iman. Sebutan untuk orang yang percaya dengan yakin atas Arkanul Iman itu disebut mukmin (mu’min, orang beriman).

“Hai orang-orang yang beriman! Yakinlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, dan kepada Kitab-Kitab yang diturunkan-Nya terdahulu. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat jalan sejauh-jauhnya” (Q.S. 4:136) .

Iman adalah masalah mendasar dalam Islam. Iman menjadi titik-tolak permulaan seseorang menjadi pemeluk Islam (Muslim). Seseorang yang menyatakan diri memeluk Islam harus mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, lalu melaksanakan apa pun perintah Allah dan Rasul-Nya, juga menjauhi larangan-Nya.

"Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketentuan akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya (berpaling dari ketentuan itu), maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata" (Q.S. 33:36). Wallahu a'lam.

IMAN

Pengertian Tauhid

tauhid Allah
Tauhid adalah sikap dasar seorang muslim yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan dipatuhi segara perintah dan larangan-Nya. Tauhid juga menjadikan seorang muslim hanya menjadikan Allah Swt sebagai tujuan.

Secara harfiyah, tauhid artinya “satu”, yakni Tuhan yang satu, tiada Tuhan selain-Nya (keesaan Allah). Tauhid terangkum dalam kalimat tahlil, yakni Laa Ilaaha Illaallaah (tiada Tuhan selain Allah).

Tauhid menjadi inti ajaran agama para nabi dan rasul, sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir, tidak ada lagi nabi/rasul setelahnya.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36).

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS Al Anbiyaa’ : 25).

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At Taubah: 31)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS Az Zumar: 2-3).

 “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS Al Bayyinah: 5).

Tauhid adalah penopang utama yang memberikan semangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Orang yang bertauhid akan beramal untuk dan hanya karena Allah semata.

Macam-Macam Tauhid
Tauhid terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Al Asma Was Shifat.

1. Tauhid Rububiyyah adalah keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta; bahwa Allah adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka.

 “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1).

2. Tauhid Uluhiyyah adalah keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang berhak disembah dan dimintai pertolongan.

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Qs. Al-Fatihah: 5).

3. Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki nama dan sifat yang sesuai dengan yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan hadits, yakni Asmaul Husna.

 “Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al A’raf: 180). Wallahu a’lam. Disarikan dari berbagai sumber

TOKOH ISLAM

Umar II Menangis Dekat Istrinya: Teladan buat Pejabat Baru

Ilustrasi UMAR bin Abdul Aziz
Cermin dan Teladan bagi Para Pejabat Negara

UMAR bin Abdul Aziz --dikenal juga dengan sebutan "Umar Bin Khattab II"-- merupakan satu-satunya khalifah pasca Khulafaurrasyidin yang kesalehannya dan keadilannya disederajatkan dengan Khulafaurrasyidin.

Menurut Anas bin Malik, cara shalat Umar bin Abdul Aziz sama dengan cara shalat Nabi Muhammad Saw.

Dikisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz diwasiati jabatan khalifah (raja) oleh Sulaiman bin Abdul Malik, Umar justru bersedih hati. Ia menggigil karena membayangkan bahwa jabatan seorang khalifah sejati tidak terlepas dari kesukaran dan tanggung jawab.

Suatu ketika, setelah menjabat, Umar diketahui sedang menangis di dekat istrinya, Fatimah. Ketika ditanya mengapa menangis, ia menjawab:

“Ya Fatimah! Saya telah dijadikan penguasa atas kaum Muslimin dan orang asing dan saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua renta yang patut diberi hormat, orang yang punya keluarga besar tetapi penghasilannya sedikit, serta orang-orang dalam keadaan serupa di negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Kebangkitan dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimanapun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis!”

Sepenggal kisah yang dikutip Syekh Mohd. Iqbal dalam buku Misi Islam (Gunung Jati Jakarta, 1982) itu, hanyalah salah satu dari sekian cerita kesalehan dan kemuliaan sifat Umar.
Kisah paling populer tentangnya adalah ketika mematikan lampu fasilitas negara saat anaknya datang untuk urusah pribadi (keluarga). Ia tiak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Umar adalah profil teladan pemimpin umat Islam. Simak kembali secara cermat alasannya menangis dekat istrinya. Ia sadar, urusan lahiriah dan batiniah umat Islam menjadi tanggung jawabnya. 
Ia pun sadar, jabatan adalah amanah sekaligus cobaan kebajikan yang sangat berat. Jabatan bukanlah peluang untuk memperkaya diri, memupuk kekayaan pribadi dan kerabat, apalagi untuk menindas bawahan atau rakyat.

Memang, pemimpin umat Islam mestilah seorang yang saleh, taat menjalankan semua perintah Allah dan Rasul-Nya, sehingga ia menjadi teladan bagi seluruh umat Islam yang dipimpinnya.
Semoga sikap Umar II yang menangis dekat istrinya itu, juka tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, menjadi teladan dan cermin bagi para pejabat di negeri ini. Amin....! Wasalam.